Konsep Dasar Hipnosis

 

Tentu, definisi dan pemahaman hipnosis yang berkembang di masyarakat sangatlah beragam. Dan itu sah-sah saja. Walaupun tidak semua benar dan tidak semuanya keliru. Tetapi tetap perlu diluruskan. Terutama tentang fenomena dan proses terjadinya gejala hipnosis yang sangat erat kaitannya dengan kajian konsep dasar hipnotisme.

Dengan memahami konsep dasarnya tentu anda akan lebih mudah memahami filosofi yang terkandung dalam keilmuan hipnosis. Dengan memahami filosofinya, berarti Anda telah menemukan sesuatu yang dapat dijadikan pegangan dan terhindar dari pemahaman yang sempit dan keliru.

Mari kita mulai dari perkataan Bapak Hipnosis modern Milton Erickson:

“Dalam sebuah proses hipnosis sebenarnya yang berperan besar justru pikiran kliennya. Kondisi hipnosis tidak bisa dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan dan norma yang di pegang teguh oleh seseorang.”

Jadi, proses hipnosis yang terjadi sebenarnya tidak seheboh pemberitaan yang berkembang, misalnya menghubung-hubungkan proses hipnosis dengan Cuci Otak (Brain Washing) atau kejahatan dan tipu muslihat beraroma hipnotis atau gendam yang membuat korban sama sekali tidak berdaya.

Proses hipnosis merupakan proses yang sederhana walaupun tetap membutuhkan keterampilan tertentu untuk memasuki kondisi tersebut. Lihat gambar di bawah ini:

tahap sugesti

Sesuai gambar di atas dapat dijelaskan bahwa Proses Hipnosis adalah membawa seseorang dari kondisi normal (normal state) memasuki kondisi hipnosis (hipnosis state) dan membawanya kembali ke kondisi normal tetapi dengan perilaku baru sesuai dengan sugesti (saran) tertentu.

Untuk memasuki kondisi hipnosis dibutuhkan keterampilan hipnoterapis atau seseorang yang melakukannya sendiri (dengan pengetahuan). Tetapi yang terpenting bahwa kondisi hipnosis dapat diakses ketika seseorang mampu kembali dari fokus eksternal menuju fokus internal. Maksudnya, dari memikirkan hal-hal di luar dirinya kembali memikirkan hal-hal di dalam dirinya. Tentu, prinsip ini sangat bertentangan dengan pendapat yang berkembang di masyarakat, bahwa hanya mereka yang lemah yang bisa dihipnosis. Faktanya, justeru orang-orang yang jiwanya tenang, dan terbiasa memasuki kondisi internal serta berkonsentrasi (meditasi, doa, dan lain-lain) lebih mudah dihipnosis. Hal-hal lain yang mempengaruhi kondisi hipnosis adalah sebagai berikut:

  1. Kondisi Psikis (kejiwaan) klien
  2. Tingkat intelegensi dan keaktifan berpikir klien
  3. Kondisi dan suasana lingkungan
  4. Keterampilan hipnoterapis
  5. Tingkat kepercayaan klien pada kemampuan hipnoterapis
  6. Keinginan yang kuat dari klien

Jika kita memperhatikan beberapa hal di atas tentu kita dapat melihat bahwa hampir sebagian besar faktor keberhasilan proses hipnosis sangat dipengaruhi oleh kemampuan klien memasuki kondisi tersebut. Pada tahap ini hipnoterapis hanya berperan sebagai penunjuk arahnya saja, selebihnya klien yang menentukan sendiri jalannya.

Setelah mendapat penjelasan,
masih percaya bahwa hipnosis terkait hal yang aneh-aneh?

Salam

 

Berbagi itu indah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*